Radio Memiliki Pengaruh pada Perkembangan pada Musik

Radio hadir pada masanya, radio ini dulunya digunakan sebagai media yang paling utama untuk memegang pengaruh yang sangat penting dalam pergerakan sebuah musik yang sedang tren. Lagu yang akan diputar itu akan menjadi hits yang ada di radio yang serta merta akan dikenal banyak nya orang. Radio ini memiliki kuasa yang akan tren pada musik yang tengah berkembang pada saat itu hingga zaman pun sekarang sudah berubah. Masuknya di era digital rupanya telah mengubah orang orang cara pendengar untuk menikmati musik yang ada.

Pada saat ini, musik bisa saja ditemukan dengan cara yang sangat mudah dan juga dapat ditemukan sendirinya oleh para pendengar, begitu pula dengan para pendengar dapat menemukan sendiri musik yang ingin mereka dengarkan.

Lantas pada masa sekarang, masihkah pengaruh dari radio yang relevan terhadap perkembangan yang sudah ada dan juga pada pembentukan yang sudah ada pada tren musik yang ada di masa kini? Sebuah sesi diskusi yang diadakan di Archipelago Festival yang pernah berlangsung di Soehanna Hall, The Energy Building, di Jakarta Selatan, untuk mencoba membicarakan hal tersebut apakah bisa untuk dimasa sekarang ini.

Menurut Music Director Jak FM, yang bernama Ilham Fahrie, radio ini masih memegang peranan yang sangat penting dalam percaturan musik yang ada di Indonesia. Hal tersebut sudah terbukti melalui survei yang hasilnya itu menunjukkan bahwa musik ini masih menjadi sebuah alasan yang paling utama untuk orang-orang yang mendengarkan radio.

“Pasti radio itu masih relevan, karena berdasarkan survei yang ada dari Nielsen, orang yang mau mendengarkan radio itu karena orang tersebut masih mau dengerin musiknya, dan sekarang itu musik yang ada di radio juga sudah berkembang dan tidak ketinggalan jaman, radio yang digunakan juga bukan dari mesin kotak tersendiri tetapi sekarang ini radio sudah ada di perangkat smartphone kalian jadi kalian tidak perlu lagi membawa bawa radio yang kecil untuk mendengarkannya dan juga tidak perlu lagi menggunakan antena untuk mencari sinyal untuk radio” tuturnya.

Hal ini sangat serupa juga yang diutarakan oleh Music Director dari Prambors, Arga Narrada. “Kalau radio ini sudah nggak relevan atau sudah ketinggalan jaman sekali untuk apa Apple ini bikin radio Beats 1?” ucapnya.

Sentuhan Manusia

Ilham dan Arga sangat sepakat apa yang membedakan playlist lagu yang diputar yang ada di radio dengan yang ada di layanan aplikasi streaming yang ada di smartphone kalian adalah adanya sentuhan dari manusia dalam penyusunannya.

Keduanya telah bercerita, untuk menyusun sebuah lagu dalam sebuah program yang ada di radio, seorang music director yang bekerja berdasarkan hasil riset yang mereka dapatkan. Hasil riset tersebut yang berisikan tentang sebuah analisis apakah lagu yang sedang mereka putarkan itu sudah tepat dengan pasar pendengar yang mereka miliki.

“Ada banyak orang yang masih dengerin radio karena masih menikmati musiknya dan hal ini yang menjadi pembeda antara radio sama dengan aplikasi streaming yang ada di playlist yang ada di streaming itu sudah dirancang oleh algoritma, sedangkan pada  radio ada human touch-nya yang mengganti lagu lagu tersebut,” ungkap Ilham.

“Hal ini lah yang menjadi nilai plus, kenapa radio ini masih menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk didengar karena di radio masih ada penyiarnya juga yang berbicara. Orang yang mendengarkan lagu di radio pada saat mereka ini masih di perjalanan mereka akan merasa ditemani oleh penyiar radio ketika mereka lagi di jalan,” sambungannya.

Meskipun radio ini memiliki keunggulan yaitu berupa pada sentuhan manusia yang tentu saja tidak dimiliki oleh aplikasi streaming, akan tetapi Arga dan Ilham juga sepakat bahwa para pelaku radio ini juga tidak bisa merasa berada di atas angin.

Inovasi yang baru perlu dilakukan agar para pendengar radio tidak merasa bosan dan akhirnya malah kabur. Ilham menyebutkan, bahwa radio ini tempatnya ia bekerja kini telah memiliki aplikasi yang di mana para pendengarnya akan tetap dapat mendengarkan siaran yang ada meskipun para pendengarnya berada jauh dari saluran FM.

“Bagaimana caranya radio akan selalu tetap keep up sama industri permusikan yang ada di era ini. Ya memang setiap adanya institusi yang ada pada radio harus terus menerus bertransformasi, kita para pelaku radio tidak harus selalu FM, kalian juga bisa mendengarkan secara streaming, yang paling terpenting radio akan selalu tetap menjalankan campaign-nya,” ini yang dikatakan Ilham.

Arga juga mengatakan, bahwa di radio tempat ia bekerja, ia juga mencoba memutarkan lagu-lagu yang alternatif yang tidak selalu berasal dari artis-artis arus utama tetapi juga berbagai macam penyanyi ia putarkan lagunya.

“Gue juga di radio selalu memainkan musik-musik yang lokal yang out of the box. Tapi kami memang tidak secara gembar-gemborin kalau malam akan memutarkan lagu-lagu indie atau hal lain sebagainya, tapi akan  tetap pada porsinya,” tutur kata Arga.

Selain menjadi platform dan pemilihan pada lagu, menurut keduanya, program yang tempat mereka bekerja dimiliki oleh radio juga memiliki pengaruh yang sangat besar untuk para pendengar.

“Memang radio akan lebih banyak untuk memutarkan musik, akan tetapi tidak akan dikesampingkan kalau mereka ini memiliki konten atau program juga agar hal ini akan lebih kuat lagi,” ungkap dari Arga.

Didominasi Oleh Musik Asing, itu kenapa?

Pada saat ini, lagu-lagu yang sering diputar yang ada di radio masih saja didominasi oleh karya musik yang berasal dari penyanyi yang asing. Bila di radio Prambors pembagian porsinya untuk musik yang diputar itu seperti 80% ini untuk lagu asing sedangkan untuk 20% ini adalah lagu lokal yang akan mereka putarkan, sedangkan di Jak FM itu memiliki porsinya sendiri seperti pada  70% akan diputarkan lagu-lagu asing dan untuk 30% akan diputarkan lagu-lagu lokal.

“Kalau dijelaskan itu seperti ada persenan yang akan menjadi pembagiannya dan itu dari 12 lagu misalnya yang akan diputarkan maka cuma 2 lagu lokalnya saja yang akan diputarkan. Perbandingannya itu adalah 12:2 lah kalau dari porsinya,”ini penjelasan dari Arga.

Menurut Ilham, hal itu terjadi bukan karena stasiun radio yang tidak bersifat suportif pada musik-musik lokal. Semua itu hanya perkara jumlah yang dimilikinya.

Jumlah lagu-lagu yang lokal yang juga berpotensi menjadi lagu yang hits yang ada di radio dan masih kalah banyak dibandingkan jumlah lagu-lagu yang ada di luar negeri dengan jenis yang serupa juga.

“Karena memang musik luar negeri itu jumlahnya lebih banyak daripada musik yang ada di Indonesia. Maksudnya itu musik Indonesia tidak sebanyak itu. Dengan kata lain, musik Indonesia ini tidak cepat diterima oleh pendengar berbeda dengan musik yang berasal dari luar negeri,” penjelasannya jelasnya.

“Sebenarnya secara tidak langsung sih, bukannya mau membuat penyanyi lagu indo menjadi pesimis bahwa itu lagu luar negeri itu lebih komersil, tapi mungkin saja lagu yang dari luar itu lebih banyak untuk bisa dikenal dan juga menjadi koleksinya,” tambahnya.

Comments are closed.