Tag: Era Radio sekarang

Jika sekarang usia kalian sudah diatas 25 tahun, mungkin saja kalian pernah rela untuk menyisihkan uang jajan kalian untuk membeli beberapa lembar kertas dari stasiun radio. Di kertas itu, akan ada tulis lagu kesukaanmu, lagu kesukaannya, atau bisa juga lagu yang ingin kalian dengar bersama teman-teman kalian.

Kalian akan menulis dengan bersemangat kepada siapa lagu itu akan kalian persembahkan. Kalian juga akan tambahkan beberapa kalimat dan salam dalam surat surat itu.

Saat jam nya telah tiba, kalian akan langsung nyalakan radio atau kalian sudah tunggu dari beberapa menit sebelum lagu nya diputar. Kalian akan tunggu penyiar membacakan pesan yang kalian kirimkan dan memutarkan lagu yang kalian minta. Kalian akan ikut tertawa jika si penyiar melucu atau pada saat membacakan pesan dan salam dari orang yang mungkin saja kalian kenal.

Kadang-kadang, kalian akan iseng ingin menelepon untuk meminta lagu yang kalian suka untuk minta diputar, atau hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan kuis yang ada di siaran situs slot mpo tersebut. Kalau kalian menang, kalian harus datang ke stasiun radio dan mengambil hadiah yang kalian menangkan. Sukur-sukur kalau kalian bisa bertemu dengan penyiar kesayangan kalian.

Kemudian era internet mulai hadir. Kalian sudah mulai bisa mengakses lagu-lagu yang ada di internet, kalian juga bisa mengunduhnya secara cuma-cuma, dan bisa mendengarnya kapan saja sesuka hati kalian. Hadir juga era media sosial. Kalian sudah tidak lagi butuh radio untuk kalian kirim salam sebab diera sekarang itu sudah sangat mudah untuk kalian menyapa teman atau gebetan kalian lewat Facebook, lalu Twitter, lalu Instagram, lalu Snapchat, dan banyak lagi media sosial yang bisa kalian gunakan untuk sekedar salam.

Lewat media sosial itu pula kalian bisa mendapatkan informasi yang terbaru yang pastinya lebih cepat dibandingkan berita yang ada di TV, kalian bisa melihat berita soal bencana, kemacetan, pencurian, dan informasi lainnya yang sangat mudah kalian dapatkan dari internet. Mulai itu dari yang dekat dengan kota tempat kalian tinggal hingga yang terjadi di belahan dunia. Pelan-pelan, kalian sudah mulai tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan radio.

Jika kalian ingin mendengar program-program yang tertentu, kalian bisa mendengarkan podcast yang ada di internet, kapanpun dan dimanapun kalian berada kalian bisa mengaksesnya. Tidak perlu khawatir lagi kalian akan ketinggalan jadwal program seperti ketika kalian dulu mendengarkan radio. Kalian juga bisa memilih tema sesuka hati kalian apa yang ingin kalian dengarkan.

Radio yang sekarang itu semakin jarang kalian dengarkan itu, ternyata, masih terus bertahan hingga sekarang, meski jalannya semakin berat. Sebab, ada banyak pendengarnya, termasuk kalian, yang perlahan berpaling ke aplikasi-aplikasi lain itu dan tidak lagi mendengarkan radio.

Radio yang ada di Surabaya, misalnya, yang dulu menyajikan musik dan berita, dan sempat memiliki angka pendengar sekitar satu juta sebelum tahun 2008. Kini, jumlahnya sangat merosot ke angka 400-an ribu pendengar.

Radio dulu pernah menjadi teknologi yang paling canggih pada masanya. Namun, ketika teknologi itu mulai berkembang, perhatian masyarakat yang ada kini mulai terbagi.

Sejarah Radio

Pada saat tahun 1996-an, ketika saat itu televisi swasta sudah mulai muncul, bisnis yang ada di radio sedikit mengalami guncangan. Di Rembang, Radio R2B yang pada saat itu baru berusia dua tahun mulai ketar-ketir sebab para pengiklan yang ada mulai lari ke televisi.

Untuk membuktikan bahwa dulu iklan yang sudah disiarkan oleh R2B memberikan sebuah dampak langsung kepada para pengiklan nya, ada pihak manajemen radio yang bahkan mengerahkan para penyiar nya untuk ke lapangan yaitu untuk ke pusat keramaian yang ada, lalu penyiar membawa pengeras suara, dan juga mulai mempromosikan radio sekaligus untuk menjual produk milik pengiklan.

Para penyiar radio itu juga pergi ke toko-toko untuk mempromosikan radio mereka dan juga produk milik pengiklan lainnya, ke pasar-pasar, memperkenalkan produk apa yang dari pengiklan. Jika tidak begitu, mereka bisa saja kehilangan pemasukan pada radio mereka.

Meskipun sangat tersendat-sendat, Onny Abi Wahono, salah satu pendiri dari R2B di Rembang, sudah bisa membangun kerajaan radio.

Membuat Portal Berita

Citra Dyah Prastuti, ia adalah seorang pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio, mengamini kesulitan yang pada saat itu dihadapi oleh industri radio. Ceruk akan semakin sempit, kue iklan pun sudah semakin sedikit. Untuk secara bisnis, KBR ini hanyalah pembuat konten. Ia tidak mempunyai saluran radio di AM ataupun FM. Namun, ia ini sudah punya sekitar 600 radio rekaman yang ada di seluruh penjuru Indonesia.

Citra tidak ingat persis tahunnya kapan, tapi diperkirakan sekitar tahun 2000-an awal, KBR pernah menerapkan sebuah sistem yang berlangganan. Jadi, radio-radio yang ada di berbagai daerah yang ada di Indonesia bisa mendapatkan konten berita yang dari KBR seperti koran-koran yang ada di media online yang sudah berlangganan ke berita ke Antara. Tapi, mekanisme ini tidak berjalan dengan baik, tidak sampai 10 tahun, sistem untuk berlangganan tidak bisa lagi dijalankan lagi.

Alasannya, karena radio-radio lokal sudah kesulitan dengan keuangan. Mereka tidak mampu untuk bayar.

Sekarang, semua yang ada di layanan berita itu akan diberikan secara gratis kepada radio rekanan. Kalau radio rekanan akan mendapatkan iklan pada saat menyiarkan konten yang ada di KBR mengudara, dan hasilnya akan dibagi dua.

 

Penetrasi Radio Masih Tinggi

Pada tahun 2016, Nielsen pernah merilis sebuah laporan yang berjudul Radio Masih Memiliki Tempat di Hati Pendengarnya. Nielsen Radio Audience Measurement mencatat meskipun internet telah tumbuh secara pesat pada kuartal ini, tidak berarti jangkauan untuk para pendengar radio menjadi rendah. Pada kuartal yang ketiga pada tahun 2016, penetrasi radio masih sekitar 38 persen, sedikit berada di bawah internet pada angka 40 persen.

Angka penetrasi ini akan menunjukkan bahwa radio masih didengarkan oleh sekitar 20 juta publik yang ada di Indonesia. Para pendengar menghabiskan waktu untuk mendengarkan radio rata-rata sekitar 139 menit per harinya.

Hingga di akhir tahun 2016, penetrasi radio berada pada angka sekitar 37,6 persen. Angka penetrasi itu sudah diperoleh Nielsen dari hasil survei ada sekitar 11 kota, yakni Bandung, Banjarmasin, Denpasar, Jakarta, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta.

Sepanjang tahun 2016 hingga tahun 2018, penetrasi radio mulai turun perlahan dari yang 37,6 persen menjadi 34,3 persen pada tahun 2018. Namun, data dari hasil survei yang ada di Nielsen pada tahun 2019 menunjukkan ada kenaikan persentase sekitar menjadi 36,3 persen.

Diane Kemp, profesor pada bidang Broadcasting yang dari Birmingham City University, Inggris, memperkirakan bahwa radio ini tidak akan mati karena adanya kemunculan podcast. Keduanya akan tumbuh bersama sebab karakteristiknya itu sangat berbeda.